SELAMAT DATANG

Selamat datang ke Laman TTLS-LPPS FLORES, sebuah laman kecil untuk berbagi cerita, info dan kerinduan kami bersama orang-orang muda yang ingin mengembangkan Karya Tani sebagai suatu wirausaha yang menghargai karya pertanian sebagai karya yang bermartabat luhur.
Taman Tani Lestari Sesawi - LPPS FLORES adalah sebuah langkah sederhana di tengah kompleksnya bidang pertanian, yang adalah ibu yang melahirkan kehidupan. Kami tak bermaksud mengubah dunia pertanian, tetapi mengajak sahabat-sahabat untuk lebih mencintainya, mendukungnya dan kalau boleh membantu orang-orang muda tani di Flores untuk mengembangkan wira usaha di bidang yang satu ini.
Karena itu bersama Taman Tani Lestari "Sesawi" - LPPS Flores, kami mengajak sahabat-sahabat kami untuk berbagi, agar "Sesawi" tumbuhan kecil ini sungguh bertumbuh menjadi "pohon kehidupan", di mana banyak orang boleh bernaung, membuat 'sarang' dan mengalami hidup secara berlimpah.
Mari bergabung bersama kami, untuk bersama-sama menuju masa depan yang lebih cerah lewat pendidikan dan pelatihan ketrampilan manusia muda.

Mataloko, 22 Juli 2011
P. Anselm. Meo SVD

Friday, July 22, 2011

3. PETANI KECIL DAN SUSAHNYA MENDAPATKAN MODAL USAHA

Visi untuk Meyakinkan Pemodal Membantu dengan Uangnya : P. Hermens SVD

Menulis artikel ini, pikiran saya kembali kepada inspirator saya yang kini telah tiada. Makamnya persis berada di belakang Kemah Tabor Mataloko, yang juga berseberangan dengan Taman Tani Lestari Sesawi - LPPS FLORES, Alm. P. Hubertus Hermens SVD.

Ketika sedang gencar-gencarnya membangun Pengairan Zaa dan membangun pelabuhan rakyat Maumbawa di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, misionaris Belanda yang memiliki nama juga Makumaja, pernah berujuar begini, "Saya tak punya uang, saya punya visi dan saya menjelaskan visi itu kepada yang punya uang dan modal, yakni pemerintah dan pemodal, agar mereka diyakinkan untuk bisa tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang dari saku dan kantong mereka".

Ucapannya ini memang benar, dan dilatarbelakangi olerh pemikiran dasar bahwa petani di wilayah ini memang susah mendapatkan modal usaha. Petani kecil apalagi yang tak punya lahan, memang perlukan uluran tangan pihak lain. Bukan karena mereka tak punya potensi dan kemampuan, tetapi karena pemahaman positif bahwa karya mereka adalah karya vital penyedia pangan untuk kehidupan masyarakat, yang tanpa karya itu kita semua termasuk pemerintah dan pemodal tak akan bisa bertahan hidup.

Taman Tani ini coba dibangun di atas visi Pastoral Pertanian sebagai karya untuk melayani kehidupan dengan menyadarkan para petani terutama petani muda bahwa karya di bidang ini adalah karya yang secara langsung melayani kehidupan, karena mereka menyediakan pangan untuk kehidupan sesamanya. Hasil karya para petani (juga mencakup peternak dan nelayan)  itulah yang akan sampai ke meja-meja perjamuan, entah di gubuk reyot sang petani sendiri, maupun di ruang perjamuan berlapis emas di hotel berbintang, di gedung-gedung pemerintah.

Di Eropah kelompok petani memang tak miskin, karena umunya lahan pertanian mereka luas dilengkapi dengan peralatan yang canggih. Petani di sana dilindungi, dimodali dan dijaga agar yang mereka hasilkan sungguh layak dikonsumsi oleh masyarakat negaranya. Hasil pertanian di sana diutamakan untuk digunakan sebagai bahan yang dikonsumsi masyarakatnya. Sponsor sprti bank dengan spanduk spanduknya ada di ladang petani. Artinya petani di sana dilindungi, diberi modal agar memproduksi hasil yang pantas dan sehat untuk menjadi bahan makanan rakyatnya.

Petani Kita Susah Mendapatkan Modal Usaha

Bagaimana dengan petani kita? Saya ingat kesadaran diri Gereja wilayah ini yang tahu bahwa uamatnya adalah adalah sebagaian besar petani, miskin dan tinggal di pedesaan. Sebenarnya sebuah titik tolak yang strategis, karena Gereja kenal situasi, kenal dirinya, walau tak nampak sungguh penanganan pastoral di bidang yang menjadi mayoritas umat ini.

Tentang modal, lebih miris lagi. Saya pernah duduk bersama direktur sebuah bank di sini berjam-jam menjelaskan visi usaha ini. Ia mau memberikan modal untuk dikembangkan, dengan janji angka yang membuat kepalaku bingung dan pusing. Tetapi ketika saat itu datang, pinjaman tak kunjung datang, dijelaskan bahwa Bank ini takut hasilnya nanti susah dijual dan menjadi kredit macet.

Rupanya inilah soalnya. Hasil petani akan bertumpuk, tetapi kalau bahan makanan wilayah ini masih "didatangkan dari luar daerah" maka kata direktur bank tadi benar.Kalau petani diberi modal usaha, maka keran perdagangan bahan makanan harus diprioritaskan untuk hasil usaha petani di wilayah ini.

Pengalaman saya di atas sebenarnya menjadi gambaran umum keadaan para petani kecil di wilayah ini. Siapa yang bisa membantu mengatasinya? Tentu saja para pengambil keputusan, pemerintah dan wakil rakyat. Saya berangan, kalau saja beras gaji PNS dibeli dari petani di wilayah ini, maka gairah untuk menamam padi menjadi bernyala. Dan mereka yang menikmati makanan itu tak ada keluhan lagi bahwa nasinya hanya layak diberi kepada ternak.

Petani Sungguh Butuh Modal Usaha
Tulisan ini adalah sebuah ajakan yang mengetuk hati para pemerintah, pemodal untuk membantu petani secara nyata. Dalam pengalaman saya dan Taman Tani ini, bantuan bagi petani bisa diberikan sbb:
  1. Modal usaha tani: Modal ini bisa berupa uang, tapi juga berupa barang seperti benih berkualitas, alat kerja, yang diberikan sesuai kebutuhan. Pembentukan kelompok memang bisa diandalkan, tetapi kelompok dadakan hendaknya ditelusuri. Bank, koperasi, seharuisnya bisa percya dan mencintai petani. Carilah petani yang mampu mengembangkan usahanya, dan bersama dia bisa dilanjutkan kepada petani lainnya, agar mereka belajar darinya.
  2. Menyiapkan kader tani yang berkomitmen: Karya tani di jaman ini dengan lahan kecil memang tak mudah. Butuh ketrampilan dan komitmen untuk mengembangkan pertanian yang membuat orang sehat, dengan sesedikit mungkin menggunakan bahan bahan kimia yang berbahaya bagi tanah kita. Ada banyak lembaga yang mau menyiapkan kesempatan untuk pelatihan ini. Taman Tani ini sendiri membuka kesempatan untuk pelatihan kader ini, agar karya di bidang pertanian menjadi karya yang menyelamatkan orang, bukan karya yang 'mematikan" baik bagi petani sendiri maupun bagi orang yang menikmati hasil pertanian mereka.
  3. Keputusan strategis yang berpihak pada petani: Kalau pemodal dan pemerintah wilayah ini mulai membantu petani dengan modal, dengan alat kerja, seyogyanya disertai juga dengan keputusan-keputusan strategis untuk melindungi petani dan karya mereka. Keran perdagangan beras antar pulau diatur, agar konsumsi kita diutamakan dari beras di wilayah ini. Kekuranganlah yang diisi. Gaji PNS pakailah bahan lokal yang berkualitas. Kita memang tak terbiasa melindungi konsumen, makanya kita tak peduli orang jual apa di toko, di pasar, sehat ataukah beracun.
  4. Menciptakan jejaringan kerja antara lembaga teknis pemerintah, dan petani serta Gereja. Tentang hal ini perhatian jangan hanya diberi kepada yang bernama lembaga, tapi juga kepada yang tak punya lembaga resmi, tetapi hasl usahanya dirasakan untuk kepentingan orang banyak.
Dan untuk semua pihak yang tergerak membantu kami dengan modal, kami mengundang untuk bergabung bersama kami. Taman Tani ini mulai dengan modal kepercayaan pengusaha lokal yang mendrop bahan bangunan tanpa jaminan sedikitpun. Juga rekan yang percaya bahwa karya ini bermanfaat.Kini kelihatan mulai menghasilkan, dimulai dengan tanpa modal, karena para pemodal bahkan pemberi tanda tangan tak sudi memberikannya.

Copyright © Ledalero, 18 Juli 2011 by Ansel Meo SVD

No comments:

Post a Comment